BERBAGI BERSAMA ITU INDAH
Sabtu, 21 Maret 2015
MATERI ASAM, BASA DAN LARUTAN PENYANGGA
1. Berapa konsentrasi H+ dan OH– dalam 500 mL larutan HCl 0,1 M?
2. Berapa konsentrasi ion H+ dan ion SO42– dalam 500 mL larutan H2SO4 0,2 M?
3. Berapa konsentrasi OH– dan H+ dalam larutan NaOH 0,2 M?
Tetapan Ionisasi Asam Basa
Asam dan basa kuat terionisasi seluruhnya sehingga tidak memiliki tetapan kesetimbangan. Namun asam dan basa lemah memiliki tetapan kesetimbangan karena dalam air hanya terurai atau hanya terionisasi sebagian. Misalnya suatu asam lemah (HA) dilarutkan dalam air akan terurai sesuai persamaan berikut.
HA(aq) <==> H+(aq) + A–(aq)
[H+] = [A–] maka
[H+]2 = Ka.[HA]
Dengan cara yang sama
dengan Ka = tetapan ionisasi asam
Ca = konsentrasi asam awal
Kb = tetapan ionisasi basa
Cb = kosentrasi basa.
Dari rumus di atas, konsentrasi H+ dan OH- dari asam lemah dan basa lemah dapat ditentukan asal harga Ka dan Kb diketahui.
Hubungan Ka, Kb dengan derajat ionisasi asam dan basa
Ka = Ca x α2
Kb = Cb x α2
Jika Ka dan Kb disubstitusikan ke rumus
Akan diperoleh persamaan sebagai berikut
Contoh soal cara menghitung konsentrasi H+
Tentukan [H+] yang terdapat dalam asam formiat 0,01 M. Jika diketahui Ka. HCOOH = 1,7 x 10–4.
Jawab
Reaksi ionisasi HCOOH
HCOOH(aq) <==> H+(aq) + HCOO–(aq)
= 1,30 x 10-3 M
Contoh soal menghitung konsentrasi OH-
Tentukan [OH–] yang terdapat dalam larutan amonia 0,5 M jika diketahui Kb.NH3 = 1,8 x 10–5.
Jawab
Dalam air NH3 terionisasi sebagai berikut = NH4OH(aq) <==> NH4+(aq) + OH–(aq)
3 x 10-3
Contoh 1
Berapa konsentrasi H+, HCOO–, dan HCOOH dalam larutan asam formiat 0,1 M,
jika derajat ionisasinya 1,5%.
Contoh 2
Derajat ionisasi asam cuka 0,1 M adalah 1%. Berapa [H+] dan Ka asam cuka tersebut?
Contoh 3
Suatu larutan basa lemah NH4OH 0,1M dalam air terionisasi 1%. Tentukan:
a. Kosentrasi OH– yang terbentuk,
b. Harga Kb
Derajat Keasaman dan kebasaan (pH dan pOH)
Kw = [H+] [OH–]
pKw = pH + pOH
Kw = 1,0 x 10-14
pKw = 14
14 = pH + pH atau pH = 14 – pOH atau pOH = 14 – pH
Sebelum masuk pada contoh soal perhatikan bebera cara atau langkah penyelesaian soal terkait asam basa:
Jika [H+] = 1 x 10-n, maka pH = n
Jika [H+] = x x 10-n, maka pH = n – log x
Jika pH = n, maka [H+] = 10-n
Jika [OH-] = 0,01 M, maka pOH = -log 0,01 = 2
Jika pOH = 3, maka [OH-] = 10-3 M
Jika pH larutan yang dicari adalah pH larutan asam dan basa lemah maka konsentrasi H+ dan OH- dapat dicari menggunakan persamaan
Contoh 1
Suatu larutan asam mempunyai konsentrasi H+ = 10–2 M, tentukan harga pH larutan tersebut.
Jawab
[H+] = 10–2 M
pH = – log [H+] = – log 10–2 = 2
Contoh 2
Suatu larutan basa mempunyai konsentrasi OH– = 5 x 10–3 M, tentukan harga pOH dan pH dari larutan tersebut.
Contoh 3
Tentukan pH dari 500 mL larutan HCl 0,2 M.
Jawab
Contoh 4
100 mL larutan HBr 0,1 M diencerkan dengan aquades 100 mL. Tentukan:
a. pH mula-mula
b. pH setelah diencerkan.
Contoh 5
Tentukan pH larutan jika 0,37 gram kalsium hidroksida dilarutkan dalam 250 mL air?
Contoh 6
Hitunglah pH larutan HCN 0,01 M (Ka HCN = 4,9 x 10–10)
Contoh 7
Suatu asam lemah dengan harga α= 0,01 dan konsentrasi asam = 0,1 M. Hitunglah pH larutan asam tersebut.
Jawab
Contoh 8
Hitung pH larutan NH4OH 0,01 M (Kb NH4OH = 1,8 x 10–5)
TITRASI ASAM BASA
Dasar titrasi asam basa yaitu reaksi asam basa.
Asam + basa <==> garam + air
Reaksi asam basa dalam bentuk larutan sebenarnya reaksi pembentukan air. Misalnya reaksi antara larutan NaOH dan HCl berlangsung sesuai persamaan berikut.
NaOH + HCl → NaCl + H2O
Jika reaksi di atas ditulis dalam bentuk ion maka ion Na+ dan ion Cl- pada reaktan dan produk ttetap ada.
Na+ + OH- + H+ + Cl- → Na+ + Cl- + H2O
Dalam tirtrasi asam basa, jika
• mol H+ = mol OH- maka campuran bersifat netral
• mol H+ > mol OH-, maka campuran bersifat asam dan konsentrasi ion H+ dalam campuran ditentukan oleh jumlah ion H+ yang tersisa.
• Mol H+ < mol OH- maka campuran bersifat basa dan konsentrasi ion OH- dalam campuran ditentukan oleh jumlah mol ion OH- yang tersisa.
Titrasi asam-basa menggunakan rumus konsentrasi dan volume asam maupun basa dihitung dengan persamaan berikut:
Vasam x Masam = Vbasa x Mbasa
dengan:
V = volum
Masam = molaritas H+
Mbasa = molaritas OH–
Titik ekivalen yaitu = pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen
Titik akhir titrasi yaitu = pH pada saat indikator menunjukan perubahan warna
Jadi dalam titrasi asam basa, usahakan titik akhir titrasi dekat dengan titik ekivalen agar tidak terlalu banyak larutan asam atau basa yang berlebih. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang cocok atau indikator yang sesuai. Perlu ditekankan bahwa, dalam titrasi asam basa tidak semua indikator dapat digunakan.
Contoh 1
10 mL HCl yang tidak diketahui konsentrasinya dititrasi oleh larutan NaOH 0,1 M. Pada titik akhir titrasi ternyata rata-rata volum NaOH 0,1 M yang digunakan adalah 12,52 mL. Hitunglah konsentrasi HCl yang dititrasi.
Jawab
Vasam x Masam = Vbasa x Mbasa
10 mL x Masam = 12,52 mL x 0,1 M
Jadi konsentrasi HCl adalah 0,125 M.
Contoh 2
10 mL HCl X M dititrasi oleh larutan Ba(OH)2 0,1 M diperlukan 15 mL. Hitunglah konsentrasi HCl yang dititrasi.
Jawab
Vasam x Masam = Vbasa x Mbasa
10 mL x Masam = 15 mL x 0,2 M
Contoh 3
50 mL larutan NaOH dinetralkan melalui titrasi oleh 25 mL larutan HCl 0,2 M. Berapa massa NaOH yang terdapat pada larutan tersebut?
Jawab
Vasam x Masam = Vbasa x Mbasa
25 mL.0,2 M = 50 mL .MNaOH
0,1 M artinya terdapat 0,1 mol NaOH dalam setiap liter larutan atau 0,1 mmol NaOH dalam setiap liter larutan. Maka jumlah mol NaOH yang terdapat dalam 50 mL larutan NaOH
= 50 mL x 0,1 M = 5 mmol = 5.10–3 mol.
Yang ditanyakan adalah massa NaOH dalam larutan, maka mol NaOH x Mr NaOH (massa molar = massa molekul relatif NaOH)
= 5.10–3 mol x 40 g/mol = 0,2 g.
Contoh 4
Sebanyak 250 mL H2SO4 0,1 M dapat dinetralkan melalui titrasi oleh larutan KOH 0,3 M. Hitunglah volum KOH yang diperlukan (dalam mL)?
Jawab
H2SO4 → 2H+ + SO42–
Asam sulfat termasuk asam berbasa dua atau asam yang dapat melepaskan dua H+ dalam air, sehingga
[H+] = 2 x konsentrasi H2SO4 awal atau koefisien H+ x konsentrasi awal H2SO4
Vasam x Masam = Vbasa x Mbasa
250 mL x 0,2 M = Vbasa x 0,3 M
Jadi volume KOH yang diperlukan sebanyak 166,7 mL
Contoh 5
40 mL larutan NH4OH 0,2 M dicampurkan dengan 100 mL larutan HCl 0,02 M. Hitung massa (mg) garam yang terbentuk, jika diketahui Ar N = 14, H = 1, Cl = 35,5.
Jawab
Persamaan reaksi:
NH4OH(aq) + HCl(aq) <==> NH4Cl(aq) + H2O(l)
NH4OH yang ada = 40 mL x 0,2 mmol mL–1 = 8 mmol
HCl yang ada = 100 mL x 0,02 mmol mL–1 = 2 mmol
Pada persamaan reaksi di atas dapat diketahui bahwa perbandingan mol atau perbandingan koefisien NH4OH dan HCl = 1: 1. Oleh sebab itu, HCl sebagai pereaksi pembatas, artinya HCl akan habis terlebih dahulu karena lebih sedikit dibanding NH4OH.
Jadi produk yang terbentuk hanya tergantung pada mol atau mmol pereaksi pembatas, pada reaksi di atas garam (NH4Cl) yang terbentuk hanya tergantung pada mol atau mmol HCl.
NH4Cl yang terbentuk
Karena yang ditanyakan adalah massa garam yang terbentuk maka diperlukan Mr.garam
Mr.NH4OH = 53,5
Jadi massa molar NH4OH = 53,5 mg/mmol
Maka massa NH4OH = 2 mmol x 53,5 mg/mmol = 107 mg
LARUTAN BUFER ATAU LARUTAN PENYANGGA
Semua larutan yang dapat mempertahankan pH disebut larutan buffer atau larutan penyangga. Sifat larutan buffer antara lain: tidak berubah pH-nya meski diencerkan dan tidak berubah pH-nya meski ditambah sedikit asam atau basa atau karena pengenceran.
Larutan buffer di bagi menjadi larutan penyengga asam dan larutan buffer basa. buffer asam selalu mempunyai pH < 7, sedangkan buffer asam mempunyai pH >7.
Cara pembuatan buffer asam
1. Mencampur asam lemah dengan garam yang mengandung basa konjugasinya.
2. mencampurkan asam lemah dan basa kuat dengan jumlah asam lemah dibuat berlebih
Contoh
1. H2CO3 dicampur dengan NaHCO3, NaHCO3 membentuk ion HCO3– sehingga terbentuk larutan penyangga H2CO3/HCO3–.
2. Campuran larutan CH3COOH dengan larutan NaOH akan bereaksi dengan persamaan reaksi:
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → CH3COONa(aq) + H2O(l)
Jika jumlah CH3COOH yang direaksikan lebih banyak daripada NaOH, maka akan terbentuk CH3COONa dan ada sisa CH3COOH sehingga terjadi larutan penyangga CH3COOH/CH3COO–.
Cara pembuatan buffer basa
1. Mencampur basa lemah dengan garam yang mengandung asam konjugasinya.
2. mencampurkan basa lemah dan asam kuat dengan jumlah asam lemah dibuat berlebih
contoh
1. NH3(aq) dicampur dengan NH4Cl. NH4Cl membentuk ion NH4+, sehingga terbentuk larutan penyangga NH3/NH4+
2. Campuran NH3(aq) dengan HCl akan bereaksi dengan persamaan reaksi
NH3(aq) + HCl(aq) → NH4Cl(aq)
Jika jumlah NH3(aq) berlebih setelah bereaksi akan terbentuk NH4Cl dan ada sisa NH3(aq) sehingga terjadi larutan penyangga NH3(aq)/NH4+.
Contoh soal
Apakah terjadi larutan buffer jika 100 mL CH3COOH 0,5 M direaksikan dengan 200 mL NaOH 0,2 M?
Jawab
pH Larutan Buffer
pH buffer asam
Jika konsentrasi dinyatakan dengan molar (mol per liter), maka persamaan dapat ditulis sebagai
pH buffer basa
Jika konsentrasi dinyatakan dengan molar (mol per liter), maka persamaan dapat ditulis sebagai
Contoh 1
Sebanyak 1 L larutan penyangga mengandung CH3COOH 0,1 M dan CH3COONa 0,1 M. Jika Ka CH3COOH = 1,8 × 10–5, maka tentukan
a. pH larutan penyangga
b. pH larutan penyangga jika ditambah 10 mL HCl 0,1 M,
c. pH larutan penyangga jika ditambah 10 mL NaOH 0,1 M.
Jawab
a. Jumlah mol basa konjugasi (CH3COO–) diperoleh dari garam CH3COONa
Jumlah mol masing-masing zat dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut.
Jumlah mol CH3COOH = 1 L × 0,1 mol.L-1 = 0,1 mol
Jumlah mol CH3COONa = 1 L × 0,1 mol.L-1 = 0,1 mol
pH larutan buffer dihitung dengan persamaan berikut
b. pH larutan penyangga jika ditambah 10 mL HCl 0,1 M
HCl merupakan suatu asam m,aka penambahannya sama dengan meningkatkan ion H+ dalam campuran. Jumlah mol HCl = 0,01 L × 0,1 mol.L-1 = 0,001 mol
H+ yang ditambahkan sama dengan konsentrasi mula-mula asam karena merupakan asam kuat dan akan bereaksi dengan akan bereaksi dengan CH3COO- membentuk CH3COOH yang tidak terionisasi.
Dari reaksi diperoleh
Mol CH3COO– = mol CH3COONa = 0,099
mol CH3COOH = 0,101
pH larutan penyangga setelah ditambah asam kuat HCl dapat dihitung sebagai berikut.
c. Pada larutan penyangga, CH3COOH akan menetralisir basa kuat NaOH yang ditambahkan. Jumlah mol NaOH yang ditambahkan. Dapat dihitung dengan cara sebagai berikut.
Jumlah mol NaOH = 0,01 L × 0,1 mol L–1 = 0,001 mol
NaOH merupakan basa kuat maka jumlah ion OH- yang ditembahkan sama dengan konsentrasi awal NaOH dan akan bereaksi H+ dalam larutan membentuk H2O. Agar tetap seimbang maka CH3COOH terurai menjadi CH3COO- dan H+. H+ yang terbentuk sebanyak yang bereaksi dengan OH-.
Persamaan reaksi dan jumlah mol masing-masing spesi.
Dari reaksi diperoleh
mol CH3COO– = 0,101
mol CH3COOH = 0,099
pH larutan penyangga setelah penambahan basa kuat dapat dihitung sebagai berikut.
Jadi, pH larutan penyangga jika ditambah 10 mL NaOH 0,1 M adalah 4,75.
Contoh soal 2
Ke dalam larutan penyangga yang terdiri dari 200 mL NH3 0,6 M dengan 300 mL NH4Cl 0,3 M (Kb NH3 = 1,8.10–5) ditambahkan air sebanyak 500 mL. Tentukan
a. pH larutan mula-mula
b. pH setelah di tambah 500 mL aquades.
Jawab
pH mula-mula
Jumlah mol NH3 = 0,6 M x 200 mL = 120 mmol = 0,12 mol
Jumlah mol NH4+ = 0,3 M x 300 mL = 90 mmol = 0,09 mol
Volum campuran = 200 mL + 300 mL = 500 mL = 0,5 L
pOH = –log 2,4.10–5
= 5 – log 2,4
= 4,62
pH = 14 – 4,62 = 9,38
Jadi, pH mula-mula adalah 9,38.
pH setelah di tambah 500 mL aquades
Penambahan aquades sama dengan pengenceran. Dalam pengenceran volume larutan bertambah besar, sehingga konsentrasi larutan menjadi kecil namun jumlah mol zat terlarut tidak berubah.
Dalam pengenceran berlaku rumus
V1 x M1 = V2 x M2
Volum campuran (V2) = 200 mL NH3 + 300 mL NH4Cl + 500 mL aquades = 1000 mL = 1 L
M . NH3 = 0,6 M
M . NH4Cl = 0,3 M
Yang dicari V2 dari NH3 dan NH4+
pOH = –log 2,4.10–5 = 4,62
pH = 14 – 4,62 = 9,38
Jadi, pH setelah ditambah 500 mL air adalah 9,38.
CONTOH SOAL LAINNYA
Contoh 1
V mL NaOH 0,3 M ditambah 2V mL CH3COOH 0,3M, jika diketahui pKa CH3COOH = 5, tentukan pH lartuan yang terbentuk?
Jawab
Campuran di atas merupakan larutan penyangga asam (asam lemah + basa konjugasi)
pH = -log H+
pH = 5
perhatikan langkah kerja berikut sedikit berbeda dengan langkah-langkah yang telah dikerjakan sebelumnya tetapi tetap memberi hasil yang sama. Pada contoh terdahulu rumus
Langsung dijadikan pH dengan cara dikalikan –log, sehingga diperoleh rumus berikut
Sedangkan pada contoh di atas di cari terlebih konsentrasi H+. Baru di masukan pada pH = log H+.
Contoh 2
Tentukan pH larutan 0,01 M garam yang diperoleh dari basa lemah dan asam kuat bila diketahui Kb basa = 10-6?
Jawab
Contoh 3
Untuk membuat larutan pH = 5, maka ke dalam 100 mL larutan 0,1 M asam asetat (Ka = 105) harus ditambah NaOH sebesar…..(penambahan volume akibat penambahan diabaikan dan Mr.NaOH = 40)
Jawab
Massa NaOH = 5 mmol x 40 mg/mmol = 200 mg
Contoh 4
Tentukan konstanta asam HZ bila asam lemah HZ 0,5 M mempunyai pH = 4-log 5.
Jawab
pH = 4-log 5
H+ = 5 x 10-4
25 x 10-8 = Ka x 0,5
Ka= 5 x 10-7
Contoh 5
Suatu larutan penyangga di buat dengan mencampur 60 mL larutan NH3 0,1 M dengan 40 mL larutan NH4Cl 0,1 M. Berapa pH larutan penyangga yang diperoleh jika diketahui Kb.NH3 = 1,8 x 10-5?.
Jawab
Mol NH3 = 0,1 mmol mL-1 x 60 mL = 6 mmol
Mol NH4Cl = NH4+ = 0,1 mmol.mL-1 x 40 mL = 4 mmol
pH = – log OH
= -log 2,7 x 10-5
= 4,57
Karena yang ditanyakan pH, maka berlaku rumus
pKw = pH + pOH
14 = 4,57 + pOH
pOH = 14 – 4,57 = 9,43
jadi pH larutan buffer yang diperoleh 9,43
Minggu, 07 September 2014
Reaksi Redoks dan Elektrokimia
1. Bilangan Oksidasi (b.o)
1.1 Pengertian Bilangan oksidasi merupakan muatan suatu atom dalam molekul atau ion jika diandaikan elektron ikatan dimiliki oleh atom yang lebih elektronegatif. Bilangan oksidasi bukanlah muatan atom tersebut.
Contoh: 1.2 Aturan Bilangan Oksidasi Untuk memudahkan penentuan bilangan oksidasi suatu atom, dibuat aturan bilangan oksidasi:
1. Bilangan oksidasi atom dalam unsurnya = 0 2. Jumlah bilangan oksidasi atom dalam molekul = 0 3. Jumlah bilangan oksidasi atom dalam ion = muatan ion tsb. 4. Bilangan oksidasi atom F dalam senyawanya = -1 5. B.o. atom-atom golongan 1 dalam senyawanya = +1 6. B.o. atom-atom golongan 2 dalam senyawanya = +2 7. B.o. atom hidrogen dalam senyawanya = +1 8. B.o. atom oksigen dalam senyawanya = -2 Catatan: Aturan yang disebut terdahulu, mempunyai kekuatan yang lebih besar. Contoh: Tentukan bilangan oksidasi: O dalam H2SO4 O dalam Na2O2 O dalam OF2 S dalam H2SO4 S dalam S8 S dalam SO2
2. Reaksi Redoks
2.1 Reaksi Oksidasi Reaksi oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron; .. adalah reaksi peningkatan bilangan oksidasi; .. adalah reaksi dengan oksigen (definisi lama) Contoh: C + O2 → CO2, karbon mengalami reaksi oksidasi
2.2 Reaksi Reduksi Reaksi reduksi adalah reaksi penerimaan elektron; .. adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi.
2.3 Reaksi Redoks Setiap reaksi oksidasi selalu disertai reaksi reduksi. Reaksi keseluruhannya disebut sebagai reaksi redoks. Contoh: KMnO4 + Na2S2O3 + H2SO4 → MnSO4 + Na2S4O6 + H2O 2.4 Reaksi Autoredoks dan Disproporsionasi Jika dalam suatu reaksi, atom yang mengalami oksidasi maupun reduksi adalah atom yang sejenis, maka reaksi tersebut disebut reaksi autoredoks. Jika dalam reaksi autoredoks tersebut, atom yang mengalami reaksi redoks berasal dari unsur/senyawa yang sama, maka reaksi itu disebut reaksi disproporsionasi. Contoh: Cl2 + 2NaOH → NaCl + NaClO + H2O
untuk kelas xi
C. BILANGAN KUANTUM DAN BENTUK
ORBITAL
1. Bilangan Oksidasi (b.o)
1.1 Pengertian Bilangan oksidasi merupakan muatan suatu atom dalam molekul atau ion jika diandaikan elektron ikatan dimiliki oleh atom yang lebih elektronegatif. Bilangan oksidasi bukanlah muatan atom tersebut.
Contoh: 1.2 Aturan Bilangan Oksidasi Untuk memudahkan penentuan bilangan oksidasi suatu atom, dibuat aturan bilangan oksidasi:
1. Bilangan oksidasi atom dalam unsurnya = 0 2. Jumlah bilangan oksidasi atom dalam molekul = 0 3. Jumlah bilangan oksidasi atom dalam ion = muatan ion tsb. 4. Bilangan oksidasi atom F dalam senyawanya = -1 5. B.o. atom-atom golongan 1 dalam senyawanya = +1 6. B.o. atom-atom golongan 2 dalam senyawanya = +2 7. B.o. atom hidrogen dalam senyawanya = +1 8. B.o. atom oksigen dalam senyawanya = -2 Catatan: Aturan yang disebut terdahulu, mempunyai kekuatan yang lebih besar. Contoh: Tentukan bilangan oksidasi: O dalam H2SO4 O dalam Na2O2 O dalam OF2 S dalam H2SO4 S dalam S8 S dalam SO2
2. Reaksi Redoks
2.1 Reaksi Oksidasi Reaksi oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron; .. adalah reaksi peningkatan bilangan oksidasi; .. adalah reaksi dengan oksigen (definisi lama) Contoh: C + O2 → CO2, karbon mengalami reaksi oksidasi
2.2 Reaksi Reduksi Reaksi reduksi adalah reaksi penerimaan elektron; .. adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi.
2.3 Reaksi Redoks Setiap reaksi oksidasi selalu disertai reaksi reduksi. Reaksi keseluruhannya disebut sebagai reaksi redoks. Contoh: KMnO4 + Na2S2O3 + H2SO4 → MnSO4 + Na2S4O6 + H2O 2.4 Reaksi Autoredoks dan Disproporsionasi Jika dalam suatu reaksi, atom yang mengalami oksidasi maupun reduksi adalah atom yang sejenis, maka reaksi tersebut disebut reaksi autoredoks. Jika dalam reaksi autoredoks tersebut, atom yang mengalami reaksi redoks berasal dari unsur/senyawa yang sama, maka reaksi itu disebut reaksi disproporsionasi. Contoh: Cl2 + 2NaOH → NaCl + NaClO + H2O
REDOKS DAN ELEKTROKIMIA
1.
Standar
Kompetensi
Memahami
reaksi oksidasi reduksi dan sel elektrokimia serta penerapannya dalam teknologi
dan kehidupan sehari-hari.
2.
Kompetensi
Dasar
Menerapkan konsep reaksi redoks dalam sistem elektrokimia
yang melibatkan energi listrik dan kegunaannya dalam industri
3.
Indikator
Pembelajaran
·
Menyetarakan persamaan reaksi redoks dengan cara
bilangan oksidasi
·
Menyetarakan persamaan reaksi redoks dengan cara
setengah reaksi (ion elektron).
·
Menyimpulkan ciri reaksi redoks yang berlangsung
spontan berdasarkan hasil pengamatan.
·
Menggambarkan susunan sel volta atau sel galvani
dan menjelaskan fungsi tiap bagiannya.
·
Menuliskan lambang sel dari reaksi-reaksi yang
terjadi pada sel volta.
·
Menghitung potensial sel berdasarkan data potensial
standar dan membandingkan hasil pengukuran dengan hasil perhitungan.
·
Menjelaskan bagaimana energi listrik dihasilkan
dari reaksi redoks dalam sel volta.
·
Menjelaskan prinsip sel-sel volta yang banyak
digunakan dalam kehidupan.
4.
Petunjuk Belajar
·
Bacalah rangkuman materi berikut dengan seksama
·
Setelah selesai membaca materi berikut jawablah soal-soal berikut
·
Jika anda mengalami kesulitan diskusikan dengan
teman anda
A. KONSEP OKSIDASI-REDUKSI
- Konsep Oksidasi-Reduksi
|
No
|
Konsep
|
Reaksi Oksidasi
|
Reaksi Reduksi
|
|
1.
2.
3.
|
1
2
3
|
-
Penangkapan Oksigen
Contoh :
Ca + O2 à CaO
-
Pelepasan Elektron
Contoh :
Zn à Zn2+ + 2e
-
Bilangan Oksidasi Naik
Contoh :
S2O32- à
S4O62-
|
-
Pelepasan Oksigen
Contoh : FeO à
Fe + O2
-
Penangkapan Elektron
Contoh : Cu2+ + 2e à Cu
-
Bilangan Oksidasi Turun
Contoh : MnO42- à Mn2+
|
|
|
|||
- Bilangan Oksidasi
Bilangan Oksidasi merupakan suatu bilangan yang dimiliki
suatu atom dalam bentuk atom, molekul ion atau senyawa.
Aturan Bilangan Oksidasi :
1.
Bilangan
Oksidasi atom Oksigen dalam bentuk senyawa atau molekul = -2, kecuali pada
peroksida –1, superoksida –1/2.
2.
Bilangan
Oksidasi atom Hidrogen dalam bentuk senyawa atau molekul = -1, kecuali pada
hidrida +1.
3.
Bilangan
Oksidasi ion sesuai jumlah muatannya
4.
Jumlah
bilangan oksidasi pada molekul atau ion sesuai jumlah muatannya.
5.
Bilangan
Oksidasi atom atau molekul bebas = 0
Contoh :
Tentukan bilangan oksidasi atom berikut ini yang dicetak
tebal !
1. SO2 4.
C2H4
2. Mn2+ 5.
Ca(NO3)2
3. NH4Cl 6. K2Cr2O7
Jawab
:
1. +4 4. -2
2. +2 5. +5
3. –3 6. +6
3.
Reduktor dan Oksidator
a.
Reduktor : Zat
yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi
b.
Oksidator : Zat
yang mengalami penurunan bilangan oksidasi
Contoh
:
2K2MnO4 +
4H2SO4 + 5H2C2O4 à
2MnSO4 + 2K2SO4 + 10CO2 + 9H2O
-
Reduktor : H2C2O4
sebab bilangan oksidasi C berubah dari +2 menjadi +4
- Oksidator : K2MnO4 sebab
bilangan oksidasi Mn berubah dari +7 menjadi +2
UJI
KOMPETENSI KONSEP DASAR REDOKS
1.
Tentukan bilangan oksidasi unsur yang dicetak tebal :
a.
Zn f.
Ca(ClO2)2
b.
Fe3+ g.
K2MnO4
c.
S2- h.
H2O2
d.
NH4+ i. NaAl(OH)4
e.
Cr2O72- j. C2H6O2
2.
Sebutkan jenis reaksi berikut oksidasi atau reduksi :
a.
Fe2+
à
Fe3+ d.
NH4+ à NO3-
b.
Cr2O72- à Cr3+ e. Al à Al(OH)4-
c.
C2O42-
à
CO2 f. As2S5 à
H2SO4
3.
Sebutkan jenis reaksi berikut redoks atau bukan redoks :
a.
Fe2+
+ Cr2O72-
à
Cr3+
+ Fe3+
b.
Cu
+ HNO3 à Cu(NO3)2 + NO + H2O
c.
HCl
+ NaOH à
NaCl + H2O
d.
I2
+ S2O32- à 2I- + S4O62-
4.
Sebutkan reduktor adan oksidator untuk reaksi redoks
berikut :
a.
Cu
+ HNO3 à Cu(NO3)2 + NO + H2O
b.
I2
+ S2O32- à 2I- + S4O62-
c.
Cl2 + OH- à
ClO- + ClO3- + H2O
d.
PbO2
+ Pb + H2SO4 à PbSO4 + H2O
5.
Setarakan reaksi redoks berikut dengan cara matematika !
a.
Cu
+ HNO3 à Cu(NO3)2 + NO + H2O
b.
I2
+ S2O32- à 2I- + S4O62-
c.
Cl2 + OH- à
ClO- + ClO3- + H2O
d.
PbO2
+ Pb + H2SO4 à PbSO4 + H2O
untuk kelas xi
STRUKTUR ATOM
STANDART
KOMPETENSI
Memahami
struktur atom untuk meramalkan
sifat-sifat periodik unsur, struktur molekul, dan sifat sifat senyawa.
KOMPETENSI
DASAR
|
1.1
Menjelaskan teori Atom Bohr dan mekanika kuantum untuk menuliskan
konfigurasi elektron dan diagram orbital serta menentukan letak unsur dalam
tabel periodik.
|
|
1.2. Menjelaskan teori jumlah pasangan elektron di
sekitar inti atom dan teori hibridisasi untuk meramalkan bentuk molekul.
1.3. Menjelaskan interaksi
antar molekul ( gaya antar molekul )
dengan sifatnya.
|
A. RADIASI DAN SPEKTRUM UNSUR
- Radiasi dibedakan radiasi partikel dan radiasi elektromagnetik.
- Spektrum unsur tergolong spektrum garis atau spektrum diskontinu (
hanya mengandung bebe rapa warna secara terputus-putus ).
- Spektrum kontinu mengandung semua panjang gelombang.
Isilah pertanyaan berikut :
1. Radiasi dibagi menjadi ……… yaitu …………………………
dan …………………………..
Contohnya ………………………………………………………………………………………
2. Radiasi
partikel adalah ……………………………………………………….…………………
Contoh
….……………………………………………………………………………………….
3. Radiasi Elektromagnetik adalah
…..…………………….………………………………………
Contoh
….…………………..…………………………………..……………………………….
- Isilah tabel di bawah ini :
|
No
|
Jenis Radiasi
|
Lambang
|
|
Muatan
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sinar Alfa
Sinar Beta
Sinar Gamma
Sinar
X
|
………………….
………………….
………………….
………………….
|
………………….
………………….
………………….
………………….
|
………………….
………………….
………………….
………………….
|
- Spektrum dibagi
………yaitu ………………………..…. dan ………………………………….
- Jelaskan spektrum kontinu ! Berilah contohnya !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan spektrum diskontinu ! Berilah contohnya !
Jawab :
……………………………………………………….……………………………………………
B. TEORI
ATOM MEKANIKA KUANTUM
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|
||||||||
|
|||||||||
Heiseberg Max Planck Schrodinger Louis de broglie Neils Bohr
- Teori kuantum yang dikemukakan Max Planck
menyatakan bahwa radiasi elektromagnet juga mempunyai sifat partikel.
Partikel radiasi elektromagnet disebut foton. Energi foton bergantung pada
frekuensinya, E = h x f .
- Neils Bohr dapat menjelaskan spektrum garis
gas hidrogen dengan menggunakan teori kuantum Max Planck. Menurut Neils
Bohr, atom terdiri inti yang bermuatan positif dan elektron-elektron yang
beredar mengitarinya pada lintasan-lintasan tertentu, bagaikan
planet-planet mengitari matahari.
- Louis de Broglie mengajukan gagasan tentang
gelombang partikel : l = h/mv. Dualisme sifat elektron, sebagai partikel dan gelombang,
mengundang koreksi terhadap model atom Neils Bohr.
- Menurut model atom mekanika kuantum, elektron
berada dalam orbital, yaitu daerah di sekitar inti dengan probabilitas
terbesar untuk menemukan elektron. Posisi elektron yang pasti tidak dapat
ditentukan.
- Werner Heisenberg mengajukan azas
ketidakpastian yang menyatakan bahwa tidak ada metode eksperimen yang
dapat dilakukan untuk menentukan posisi sekaligus kecepatan elektron.
- Bentuk dan tingkat orbital dirumuskan dalam
suatu persamaan gelombang oleh Erwin Schrodinger.
·
Isilah pertanyaan-pertanyaan
di bawah ini :
1. Menurut MAX PLANCK radiasi elektromagnetik
bersifat diskrit. Jelaskan !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
2. Jelaskan pendapat Einstein tentang foton.
Jelaskan !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
3. Energi foton bergantung pada …………. atau
…………………., dirumuskan :
E = …….. atau E = ……… , dimana h = tetapan Planck = 6,63.10-23 J det.
- Manakah yang mempunyai energi lebih besar
sinar ungu atau sinar biru . Jelaskan!
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan yang dimaksud Efek
Fotolistrik !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Bagaimana pendapat Einstein tentang Efek Fotolistrik !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Suatu logam menghasilkan fotolistrik dengan sinar kuning.
a. Apakah logam tersebut dapat atau tidak dapat menghasilkan fotolistrik
dengan
1). Sinar kuning
2). Sinar merah
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
b. Apakah kuat arus akan meningkat, berkurang atau tetap jika intensitas sinar
(kuning) yang dikenakan diperbesar ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
c. Bagaimanakah kuat arus, lebih besar, sama atau lebih kecil, jika yang
digunakan adalah sinar biru dengan intensitas yang sama ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan Model Atom NIELS BOHR ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan yang dimaksud elektron dalam keadaan tingkat dasar ( ground
state )?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan yang dimaksud elektron dalam keadaan tereksitasi ( excited
state ) ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Tentukan energi radiasi yang menyertai perpindahan elektron dari kulit
n = 4 ke kulit n = 2 dalam atom hidrogen !.
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Berikan penjelasan mengapa spektrum unsur berupa spektrum garis
sedangkan spektrum dari sinar matahari berupa spektrum kontinu ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan hipotesis LOUIS DE BROGLIE ?
Jawab :
……………….. ………………………………………………………………………………….
- Tuliskan persamaan sifat gelombang dari partikel ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
21. Sebutkan Tokoh Model
Atom Mekanika Kuantum !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan pendapat Schrodinger tentang Orbital !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan Azas Ketidakpastian dari Heisenberg !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan perbedaan model atom mekanika kuantum dengan model atom Neils
Bohr !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
- Jelaskan perbedaan orbit dengan orbital !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
C. BILANGAN KUANTUM DAN BENTUK
ORBITAL
1. BILANGAN KUANTUM
Rangkuman
·
Kedudukan suatu orbital ditentukan oleh tiga bilangan
kuantum yaitu bilangan kuantum utama ( n ) ,bilangan kuantum azimuth ( l ),
bilangan kuantum magnetik (m).
·
Kedudukan suatu elektron ditentukan oleh empat bilangan
kuantum yaitu bilangan kuantum utama ( n ),bilangan kuantum azimuth ( l
),bilangan kuantum magnetik(m) dan bilangan kuantum spin(s ).
·
Tingkat energi ditentukan oleh bilangan kuantum utama ( n
) dan bilangan kuantum magnetiknya. Nilai
( n+1 ) makin besar, makin tinggi pula tingkat energinya.
Isilah pertanyaan-pertanyaan di bawah
ini :
1. Sebutkan
dan jelaskan fungsi keempat bilangan kuantum !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Tuliskan lambang bilangan kuantum :
a.
Utama
b.
Azimuth
c.
Magnetik
d.
Spin
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Tuliskan Nilai
Bilangan kuantum Azimuth dan magnetik!
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Tuliskan bilangan kuantum dari
a.
kulit K e. sub kulit s
b.
kulit L f. sub kulit p
c.
kulit M g. sub kulit d
d.
kulit N f. sub kulit f
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Berapa nilai l dan m yang mungkin untuk elektron
dengan nilai n = 2 !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Berapa nilai m
yang nungkin untuk elektron dengan nilai l = 1, dan l = 2 !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Berapa nilai s yang mungkin untuk elektron
dengan nilai m = 1 !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Berapakah jumlah
orbital yang terdapat pada kulit L ( n=2). ? Tuliskan bilangan kuantum
dari semua orbital tersebut!
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Tuliskan kulit atau
sub kulit yang sesuai ( K, L, M, N, s p, d, f ) untuk setiap bilangan
kuantum berikut !
a.
n = 2
b.
l = 3
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- Berapakah jumlah
maksimum elektron dalam ?
a.
kulit dengan
nilai n =3
b.
sub kulit dengan nilai l = 2
c.
orbital dengan m
= 3
d.
atom dengan nilai n tertinggi 3
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
2. BENTUK ORBITAL
Rangkuman
·
Bentuk orbital ditentukan oleh bilangan kuantum azimuth.
Orbital s ( l = 0 ) berbentuk bola. Orbital p ( l
= 1 ) berbentuk balon terpilin .
1.
Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis orbital !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
2.
Jelaskan mengapa orbital s digambarkan seperti bola &
orbital p berbentuk balon terpilin ?
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
3.
Mengapa dalam setiap orbital maksimum berisi 2 elektron ?
Jelaskan !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
4.
Mengapa 2 elektron tidak mungkin memiliki keempat
bilangan kuantum yang sama ?
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
5.
Sebutkan bentuk dan gambarkan orbital p :
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
3. KONFIGURASI
ELEKTRON
Rangkuman
·
Konfigurasi elektron memenuhi kaidah Aufbau, aturan Hund
dan azas larangan Pauli.
·
ATURAN PENULISAN KONFIGURASI ELEKTRON
1.
Sebutkan dan jelaskan
aturan penulisan konfigurasi elektron !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
2.
Gambarkan urutan tingkat energi orbital menurut Aufbau !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
3.
Susunlah subkulit-subkulit berikut dari tingkat energi
yang terendah :
1). 2p, 2s
2). 3s, 3d, 3p, dan 4s
3). 5s, 4p, 4d, dan 5p
4). 6s, 5p, 5d, dan 4f
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
4.
Sebutkan jumlah maksimum elektron yang terdapat pada
subkulit s, p,d dan f !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
5.
Tuliskan rumus jumlah maksimum elektron tiap kulit !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
6.
Mengapa dua elektron dapat menempati 1 orbital padahal
elektron bermuatan negatif !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
7.
Mengapa dalam satu orbital tidak dapat ditempati 3
elektron !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
8.
Mengapa elektron dalam mengisi orbital satu demi satu
kemudian baru berpasangan !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
9.
Gambarkan diagram orbital untuk unsur dengan nomor atom
6,13, 18 dan 24 !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
- KONFIGURASI ELEKTRON
10. Tuliskan konfigurasi elektron dari :
1)
7N 5)
30Zn
2)
10Ne 6)
38Sr
3)
17Cl 7)
50Sn
4)
21Sc 8) 55Cs
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
11.
Tuliskan konfigurasi elektron dari soal a) dengan
menggunakan konfigurasi elektron gas mulia !
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
12.
Dengan memperhatikan kestabilan konfigurasi penuh/setengah
penuh. Tuliskan konfigurasi elektron dari :
1)
24Cr
2)
29Zn
3)
42Mo
4)
47Ag
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
13. Tuliskan konfigurasi elektron dari :
1). 13Al3+
2). 16S2-
3). 20Ca2+
4). 53I-
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
14. Tuliskan :
1).
konfigurasi elektron
2).
diagram orbital
3).
jumlah kulit
4).
jumlah subkulit
5). jumlah elektron tunggal ( elektron tidak
berpasangan )
Dari unsur-unsur sebagai berikut :
a). 15P
b). 24Cr
c). 35Br
d). 56Ba
Jawab
:
…………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………….
- ELEKTRON VALENSI
Rankuman
·
Elektron yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan
disebut elektron valensi.
15.
Apa yang dinamakan elektron valensi ?
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
16. Jelaskan fungsi elektron valensi !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
17.
Tuliskan elektron valensi golongan utama dan golongan
transisi !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
18. Tentukan elektron valensi dari :
a). 15P c).
35Br
b). 24Cr d). 56Ba
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
F. SISTEM
PERIODIK
Rangkuman
·
Letak unsur dalam sistem periodik sesuai dengan
konfigurasi elektronnya. Unsur-unsur seperiode mempunyai bilangan kuantum utama
yang sama, unsur-unsur segolongan mempunyai elektron valensi sama.
·
Berdasarkan konfigurasi elektronnya, unsur-unsur dalam
sistem periodik dibagi dalam blok s, blok p, blok d dan blok f.
·
Blok s dan p
disebut unsur utama ( golongan A ).
·
Blok d disebut
unsur transisi ( golongan B )
·
Blok f disebut unsur transisi dalam ( deret lantanida dan
aktinida ).
- SISTEM
PERIODIK
a.
Jelaskan yang
dimaksud dengan :
1).
Golongan
2).
Periode
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
b.
Tentukan jumlah golongan dan periode dalam sistem
periodik !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
c.
Tuliskan elektron valensi dari golongan IA s/d VIIIA !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
d.
Tuliskan elektron valensi dari golongan IB s/d VIIIB !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
e. Termasuk golongan
apakah deret lantanida dan aktinida. Jelaskan !
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
f. Sebutkan
termasuk blok apakah golongan :
1). IA dan
IIA
2).
IIIA s/d VIIIA
3)
IB s/d VIIIB
Jawab :
…………………………………………………………………………………………………….
2. HUBUNGAN KONFIGURASI DENGAN SISTEM PERIODIK
a.
Tentukan golongan dan periode dari unsur sebagai berikut
:
1).
12Mg
2).
17Cl
3).
22Ti
4).
29Cu
5).
20Ca2+
6) 26Fe3+
Langganan:
Postingan (Atom)




